KADAR AIR TANAH PADA KAPASITAS LAPANG

PRAKTIKUM III

 

Topik               : Kadar air tanah pada kapasitas lapang.

Tujuan             : Untuk mengamati kadar air tanah pada kapasitas lapang beberapa jenis tanah.

Hari/ tanggal    :

Tempat           :

 

 

I. ALAT DAN BAHAN:

  1. Alat:

-          Pipa gelas (silinder), diameter ± 5 cm dan panjang ± 75 cm, sebanyak 4 buah.

-          Statif dan klem

-          Beacker glass

-          Oven

-          Neraca

  1. Bahan:

-          Tanah merah, tanah lempung, pasir, dan tanah gambut yang telah dikeringkan.

-          Air

-          Kain kasa

-          Gelang karet

 

II. CARA KERJA

  1. Menyiapkan statif dan klemnya, menutup salah satu ujung pipa gelas dengan kain kasa dan pasang dengan baik pada statif dan klemnya.
  2. Memasukkan masing-masing sampel tanah (± 400gram) atau sampai setinggi kurang dari 8 – 10 cm permukaan sebelah atas pipa gelas yang telah disediakan.
  3. Menegakkan pipa gelas pada statif dan klemnya, kemudian menuangkan air secukupnya (50 ml) atas dan tutup bagian atas pipa dengan penutup yang longgar.
  4. Membiarkan air meresap ke dalam partikel tanah dan periksa tiap hari batas tanah yang basah dan kering pada pipa gelas tersebut. Mencatat pada hari ke berapa batas basah tidak turun lagi.
  5. Memisahkan bagian tanah yang basah dari yang kering apabila peresapan air sudah terhenti yang dapat dilihat dari tidak adanya penurunan lebih jauh batas tanah.
  6. Menimbang berat tanah basah tersebut, kemudian mengeringkan dalam oven pada suhu 70° C selama 48 jam.
  7. Menghitung kadar air tanah tersebut yang merupakan kadar air tanah pada kapasitas lapang.

 

III. TEORI DASAR

Tanah merupakan media yang penting bagi tumbuhnya tumbuhan. Hal ini disebabkan karena tanah di samping sebagai bahan penyangga untuk berdirinya tumbuhan, tanah juga merupakan sumber mineral dan air bagi tumbuhan di atasnya. Sedangkan air merupakan salah satu komponen penting dalam tanah yang dapat menentukan suatu tumbuhan dapat hidup atau tidak. Hubungan antara tanah dan air dapat diukur dengan berbagai parameter. Percobaan berikut adalah cara yang dapat digunakan untuk mengetahui hubungan tanah, air dan tanaman.

Tanah mempunyai kapasitas lapang apabila tanah kering yang dibasahi dengan air sampai air yang membasahi tanah tersebut bergerak kapiler dan gaya gravitasinya tidak mampu lagi menurunkan air itu lebih lanjut. Pengukuran kapasitas lapang secara lebih teliti dengan memasukkan tipe tanah yang diukur kapasitasnya ke dalam suatu tabung gelas silinder. Tanah yang hendak diukur kapasitas lapangnya terlebih dahulu dikeringkan dan dihaluskan sampai terurai menjadi partikel menjadi partikel kecil kemudian di atas tanah tadi dituangkan sejumlah air dan membiarkannya meresap turun ke dalam tabung dan diusahakan ada penguapan air pada permukaan atas tanah. Membiarkan sampai 2 – 3 hari sampai air tidak bergerak lagi ke bawah yang berarti gerak kapiler dan saya gravitasinya tidak mampu lagi menarik air tadi lebih jauh ke bawah (berhenti). Apabila bagian tanah yang basah ditimbang kemudian dikeringkan dengan oven maka setelah itu baru dapat diukur kadar airnya yang merupakan kadar air pada kapasitas lapang.

 

 

 

IV. HASIL PENGAMATAN

Tabel 1. Penurunan air (cm).

No

Jenis tanah

Hari Ke-

1

2

3

4

5

6

1

Tanah pasir

11

28

-

-

-

-

2

Tanah merah

8

15

17

18

-

-

3

Tanah gambut

14

19,5

19,5

20

-

-

4

Tanah lempung

6

10

11,5

12

-

-

 

Tabel 2. Kapasitas Tanah (gr).

No

Jenis tanah

Berat basah

Berat kering

Kapasitas lapang

1

Tanah merah

250

175

30%

2

Tanah pasir

450

400

11,11%

3

Tanah gambut

300

225

25%

4

Tanah liat

200

150

25%

Berat awal semua tanah = 400 gr.

 

V. ANALISIS DATA

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan selama satu minggu untuk mengetahui kadar air tanah pada kapasitas lapang diperoleh hasil yang berbeda pada empat jenis tanah yang digunakan dalam pengamatan kali ini:

  1. Pada hari pertama

Pada hari pertama ini untuk pasir mengalami penurunan sebesar 11 cm, pada tanah merah sebesar 8 cm, tanah gambut sebesar 14 cm dan tanah lempung mengalami penurunan sebesar 6 cm. Dan penurunan air terbesar dialami oleh tanah gambut.

  1. Pada hari kedua

Pada hari kedua tanah merah mengalami penurunan sebesar 25 cm, pada tanah gambut sebesar 19,5 cm, dan tanah liat sebesar 10 cm. Dan yang paling besar mengalami penurunan adalah pada pasir yaitu sebesar 28 cm.

  1. Pada hari ketiga

Pada hari ketiga pasir sudah tidak mengalami penurunan lagi namun jenis tanah yang lain masih mengalami penurunan dan tanah merah mengalami penurunan sebesar 17 cm, pada tanah liat sebesar 11,5 cm dan yang paling besar mengalami penurunan adalah tanah gambut yaitu sebesar 19,5 cm.

  1. Pada hari keempat

Pada hari keempat yang mengalami penurunan hanyalah tiga jenis tanah saja lagi, yaitu tanah merah yang mengalami penurunan sebesar 18 cm, tanah liat sebesar 12 cm dan yang paling besar penurunan terjadi pada tanah gambut yaitu sebesar 20 cm.

  1. Pada hari kelima, keenam, dan ketujuh

Pada hari kelima, keenam dan ketujuh tidak terjadi penurunan lagi untuk semua jenis tanah.

Untuk menghitung kapasitas lapang suatu tanah dapat dilakukan dengan menghitung selisih antara berat basah dengan berat kering tanah tersebut dan membaginya dengan berat basah kemudian hasilnya dikali 100%. Berat basah yaitu banyaknya tanah yang dapat menyerap air sedangkan berat kering adalah tanah basah yang sudah dikeringkan dengan oven selama 48 jam dengan suhu 70° C atau tanah yang sudah disangrai sampai kering. Berdasarkan perhitungan terhadap berbagai jenis tanah yaitu untuk tanah merah sebesar 30 %, tanah liat sebesar 25 %, pasir sebesar 11,11 %, sedangkan untuk tanah gambut sebesar 25 %. Dari data tersebut dapat kita ketahui bahwa kapasitas lapang terbesar terjadi pada tanah merah, sedangan untuk kapasitas terkecil terdapat pada pasir.

Menurut Sarwono (2003) tanah liat (termasuk tanah liat dan merah) memiliki ciri rasa agak licin, agak melekat dan dapat dibentuk bola agak teguh, dapat dibentuk gulungan yang agak mudah hancur. Tanah jenis ini memiliki tekstur liat karena lebih halus maka setiap satuan berat mempunyai luas permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan untuk menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah bertekstur halus lebih aktif dalam reaksi kimia daripada bertekstur kasar. Sedangkan pasir memiliki nilai kapasitas lapang lebih terkecil karena butir-butirnya berukuran lebih besar maka setiap satuan berat (misalnya tiap gram) mempunyai luas permukaan yang lebih kecil sehingga sulit untuk menahan (menyerap) air dan unsur hara.

Kandungan air pada kapasitas lapang ditunjukkan oleh kandungan air pada tegangan 1/3 bar (33 k Pa). Kemampuan tanah untuk menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah. Tanah-tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada tanah bertekstur halus. Oleh karena itu, tanaman yang ditanam pada pasir umumnya lebih mudah kering daripada tanah bertekstur lempung atau liat.

 

VI. KESIMPULAN

  1. Setiap tanah memiliki kadar yang berbeda-beda pada tiap kapasitas lapangnya.
  2. Tanah yang memiliki kapasitas lapang tertinggi adalah tanah liat dan tanah merah yang memiliki partikel halus yang mudah padat dan merupakan sistem koloid yang suka menahan air sukar mengalir ke bawah.
  3. Tanah yang memiliki kapasitas lapang terkecil adalah pasir karena mengandung banyak partikel yang kasar sehingga sulit mengikat air dan air mudah mengalir ke bawah.

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: